Tim Nasional Spanyol resmi menahbiskan diri sebagai Raja Sepak Bola Dunia untuk kedua kalinya. Lewat drama 120 menit yang menguras emosi, La Furia Roja sukses membungkam sang juara bertahan Argentina dengan skor tipis 1-0 di partai puncak Piala Dunia 2026, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Pertandingan yang digadang-gadang sebagai pertarungan hidup mati ini berjalan sangat alot. Pertahanan rapat dan dominasi penguasaan bola Spanyol membuat Lionel Messi dkk mati kutu.
Kebuntuan akhirnya pecah di babak kedua perpanjangan waktu. Berawal dari skema serangan yang tak kenal lelah, Ferran Torres muncul sebagai pahlawan lewat gol krusialnya di menit ke-106. Gol semata wayang ini cukup untuk mengantarkan trofi Piala Dunia kembali ke tanah Matador sejak terakhir kali mereka menjuarainya pada 2010 silam.
Di balik kemenangan bersejarah ini, terdapat sejumlah narasi dan rekor luar biasa yang tercipta di atas lapangan:
Spanyol membuktikan bahwa regenerasi mereka berjalan sangat sempurna. La Furia Roja bahkan mencetak sejarah sebagai tim pertama yang berani menurunkan dua pemain belasan tahun secara bersamaan di susunan starter laga final, yakni Lamine Yamal (19 tahun 6 hari) dan Pau Cubarsi (19 tahun 178 hari). Keberanian ini berbanding terbalik dengan Argentina yang turun dengan skuad tertua kedua sepanjang sejarah final (rata-rata 30 tahun 101 hari).
2. Pertahanan "Baja" Tim MatadorSpanyol tak hanya tangguh menyerang, tapi juga mustahil ditembus. Sepanjang turnamen, gawang mereka hanya kebobolan satu kali dalam delapan pertandingan. Ini adalah rekor kebobolan paling sedikit bagi sebuah tim kampiun dalam satu edisi Piala Dunia. Kemenangan ini juga memperpanjang rekor tak terkalahkan Spanyol menjadi 38 pertandingan di semua kompetisi.
3. Argentina yang Kehilangan TaringnyaSolidnya lini tengah Spanyol yang dikomandoi Rodri (101 operan sukses) sukses memutus aliran bola Tim Tango. Secara mengejutkan, Argentina gagal mencatatkan satu pun tembakan selama 90 menit waktu normal. Megabintang Lionel Messi baru bisa melepaskan tembakan pertamanya di menit ke-117.
4. Malam Penuh Drama bagi Tim TangoMeski Emiliano Martinez tampil kesetanan dengan mencetak rekor 11 penyelamatan di laga final, perjuangan Argentina harus runtuh di babak tambahan. Beban mereka semakin berat setelah Enzo Fernandez diganjar kartu merah, menjadikannya pemain Argentina ketiga dalam sejarah yang diusir keluar lapangan pada partai final. Hasil ini membuat Argentina harus puas menjadi runner-up untuk keempat kalinya (1930, 1990, 2014, dan 2026).
Kekalahan ini sekaligus menjadi pil pahit bagi Lionel Messi. Tampil di final Piala Dunia ketiganya pada usia 39 tahun, La Pulga harus rela melihat trofi emas tersebut melayang ke tangan generasi baru Spanyol yang tampil nyaris tanpa celah.


